BURUNG ENGGANG
Tampangnya gagah bijaksana. Orang Dayak menghormatinya sebagai Panglima
Burung. Itulah burung Enggang (Hornbill) dari Pulau Kalimantan.
Burung enggang atau rangkong dalam bahasa Inggris disebut hornbill
karena paruhnya memiliki tanduk atau cula. Di suku dayak, enggang termasuk
burung yang dikeramatkan.Burung enggang juga dianggap sebagai lambang
perdamaian dan persatuan. Oleh karena itu, burung enggang dapat kita temukan di
hampir setiap ruang masyarakat dayak, seperti pada patung, ukiran, lukisan,
pakaian, rumah, balai desa, monumen, pintu-pintu gerbang, juga di makam-makam.

Keunikan Cara Hidup
Burung Enggang betina suka bertelur di lubang batang pohon. Sarang burung
Enggang ditutupi lumpur dan hanya menyisakan sedikit lubang. Selama mengerami
telurnya, burung Enggang jantan memberi makan burung Enggang betina melalui
lubang kecil di sarangnya. Burung Enggang merupakan lambang kesetiaan dan
kerukunan. Orang Dayak sangat menghormati burung Enggang. Burung Enggang
dianggap sebagai Panglima Burung atau Panglima Perang dari Langit. Oleh karena
itu, burung Enggang dijadikan lambang propinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan
Tengah.
Sayapnya yang tebal menggambarkan
pemimpin yang melindungi rakyatnya. Suaranya yang keras menyimbolkan perintah
pemimpin yang selalu didengar oleh rakyat. Ekornya yang panjang menjadi tanda
kemakmuran rakyatnya.
Paruh burung enggang digunakan
sebagai lambang pemimpin perang orang dayak. Namun, karena orang Dayak
mengeramatkan burung ini, orang dayak hanya mengambil paruh enggang yang sudah
mati.
Bulu ekornya yang memiliki warna
hitam dan putih digunakan dalam pakaian adat Kalimantan dan digunakan sebagai
kostum dalam tari-tarian saat upacara adat. Para penari adat menggunakan bulu
enggang sebagai hiasan kepala dan jari-jari tangan.
Burung yang panjangnya bisa mencapai
150 cm ini juga menjadi lambang kesetiaan dan kerukunan. Hal ini berangkat dari
cara hidupnya yang unik. Burung enggang hidup berpasang-pasangan dan tidak
dapat hidup tanpa pasangannya. Burung enggang betina suka bertelur di lubang
pohon. Sarangnya ditutupi lumpur dan hanya menyisakan sedikit lubang. Saat
mengerami telurnya, enggang betina tinggal di dalam sarang. Selama waktu
pengeraman yang berlangsung lama ini (sekitar 4 bulan), enggang jantan akan
memberi makan enggang betina melalui lubang kecil tersebut.
Keanekaragaman
burung Rangkong atau Enggang
di Indonesia sangat tinggi di bandingkan negara lain. Indonesia merupakan
negara yang paling banyak memiliki jenis burung Rangkong. Dari 57 spesies
burung Rangkong yang terdapat di seluruh dunia, 14 diantaranya terdapat di
Indonesia. Keanekaragaman burung Rangkong itu makin terasa lantaran tiga jenis
diantaranya merupakan endemik Indonesia yang tidak terdapat di negara lain.
Burung
Rangkong dikenal juga sebagai Julang, Enggang, dan Kangkareng atau bahasa
Inggris disebut Horbbill merupakan nama burung yang tergabung dalam suku
Bucerotidae. Burung Rangkong atau Enggang mempunyai ciri khas pada paruhnya
yang mempunyai bentuk menyerupai tanduk sapi. Nama ilmiahnya, “Bucerotidae”
mempunyai arti “tanduk sapi” dalam bahasa Yunani.
Ketiga
Rangkong atau Enggang endemik Indonesia adalah:
- Rangkong Sulawesi atau Julang Sulawesi Ekor Hitam (Rhyticeros Cassidix); Rangkong ini merupakan satwa endemik pulau Sulawesi dan sekaligus menjadi fauna identitas Sulawesi Selatan). Satwa yang nama ilmiahnya bersinonim dengan Aceros cassidix ini oleh masyarakat setempat disebut juga sebagai Rangkong Buton, Burung Taonn, Burung Alo.
- Julang Sulawesi Ekor Putih atau Kangkareng Sulawesi (Penelopides exarhatus); Julang Sulawesi Ekor Putih merupakan endemik pulau Sulawesi
- Julang Sumba (Rhyticeros averitti). Julang Sumba merupakan satwa endemik Sumba, Nusa Tenggara Barat. Selain disebut Julang Sumba burung ini juga disebut Goanggali, Nggokgokka, atau Rangkong Sumba.
Namun
sekarang ini burung enggang merupakan burung langka yang sudah sangat sulit di
temui di hutan borneo, ini dikarenakan pengerusakan hutan borneo yang
terus-menerus terjadi, seperti penebangan hutan baik illegal logging maupun
untuk dijadikan lahan perkebunan kelapa sawit.
Nasib
burung enggang ini sekarang sama seperti nasib suku Dayak di borneo yang
semakin terpinggirkan di tanahnya sendiri. Sekarang burung ini hanya sebagai
simbol dan hanya dapat dilihat dalam suatu rekaman gambar yang menunjukkan masa
kejayaannya dimasa lampau.
Burung
ini hanya dapat dilihat sebagai simbol yang dilukiskan berupa motif seperti
pada gambar ini. Kasihan sekali nasib mereka. Sebagian yang tersisa darinya
hanya sebuah gambar dan segelintir bagian paruh dan bulu yang tetap di simpan
rapi oleh masyarakat suku dayak. ( Sumber : Wikipedia )
SUMBER:
https://alamendah.org/2010/04/18/keanekaragaman-burung-rangkong-enggang-indonesia/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar