Sabtu, 12 November 2016

Kukang, binatang khas kalimantan yang pemalu

          kadang-kadang disebut pula malu-malu— adalah jenis primata yang gerakannya lambat. Warna rambutnya beragam, dari kelabu keputihan, kecoklatan, hingga kehitam-hitaman. Pada punggung terdapat garis cokelat melintang dari belakang hingga dahi, lalu bercabang ke dasar telinga dan mata. Berat tubuhnya berkisar antara 0,375-0,9 kg, dan panjang tubuh hewan dewasa sekitar 19–30 cm. Dari delapan spesies kukang yang masih ada, enam di antaranya dapat ditemukan di Indonesia, yakni di pulau-pulauSumatera, Jawa dan Kalimantan. Kukang (Nycticebus spp.) memiliki penampilan yang lucu dan menggemaskan sehingga banyak masyarakat umum yang gemar menjadikan primata ini sebagai hewan peliharaan. Karenanya, semua jenis kukang ini telah terancam oleh kepunahan. Kukang telah dilindungi oleh hukum Indonesia, sehingga memperdagangkannya tergolong melanggar hukum (ilegal) dan kriminal. 
 
(sumber:https://id.wikipedia.org/wiki/Kukang)
 
Di dunia terdapat 14 jenis (spesies) kukang yang 3 diantaranya terdapat di Indonesia. Ketiga jenis kukang yang hidup di Indonesia adalah kukang besar (Nycticebus coucang), kukang jawa (Nycticebus javanicus), dan kukang borneo (Nycticebus menagensis).  kukang yang berada dikalimantan yang dikenal dengan nama kukang borneo.Kukang Borneo (Bornean Slow Loris). Kukang bernama latin Nycticebus menagensis ini endemik Kalimantan yang bisa ditemukan di Indonesia (Kalimantan, Bangka, dan Belitung), Malaysia (Sabah dan Serawak), Brunei Darussalam, dan sebagian Filipina. Sebelumnya, kukang jawa dianggap sebagai anakjenis (sub spesies) dari Nycticebus coucang namun kemudian diakui sebagai spesies tersendiri.
Dengan cara yang lamban ini, kukang menghabiskan sedikit energi. 
 
Bulunya yang berwarna cokelat dan kasar, yang kadang-kadang ditumbuhi ganggang hijau, menyebabkan binatang ini tersamar di lingkungannya. Kukang jarang turun ke tanah karena cara berjalannya yang lamban dan kikuk akan menjadikannya mangsa empuk bagi jaguar dan pemangsa lain. Selama bulan pertama, kukang yang baru lahir menempel pada induknya untuk menyusu. Kukang melahirkan satu anak pada musim panas. Setelah sebulan, anak kukang mulai makan daun. Enam hingga sembilan bulan kemudian, induk menyisihkan sebagian dari wilayah makannya bagi anaknya.Setiap kukang belajar dari induknya untuk makan hanya pada pohon tertentu. Setelah disapih, anakan itu mewarisi wilayah makanan induknya dan juga seleranya untuk daun tertentu. 
 
Cara makan yang pilih-pilih ini menjamin bahwa beberapa kukang dapat makan di satu wilayah umum tanpa saling mengganggu.Lambung KukangLambung kukang itu besar dan rumit, dengan beberapa ruangan terpisah. Jalur setepatnya yang dilalui makanan tidaklah diketahui, tetapi makanan itu tentulah tinggal di lambung untuk jangka waktu yang lama. Pada ruangan di lambungnya, daun lambat laun diuraikan oleh mukus. Di lambung kiri terdapat dua ruangan: satu mengandung kelenjar-kelenjar peptik, dan yang lain adalah ruang pemamah dan pengunyah.
 
Cara Mengasuh AnakSelama bulan pertama, kukang yang baru lahir menempel pada induknya untuk menyusu. Kukang melahirkan satu anak pada musim panas. Setelah sebulan, anak kukang mulai makan daun. Enam hingga sembilan bulan kemudian, induk menyisihkan sebagian dari wilayah makannya bagi anaknya.Setiap kukang belajar dari induknya untuk makan hanya pada pohon tertentu. Setelah disapih, anakan itu mewarisi wilayah makanan induknya dan juga seleranya untuk daun tertentu. Cara makan yang pilih-pilih ini menjamin bahwa beberapa kukang dapat makan di satu wilayah umum tanpa saling mengganggu.Tapi tidak bisa dipungkiri perburuan akan satwa kecil ini juga meraja lela. Selain itu, kurang ketatnya pengawasan, pelaksanaan dan penegakan hukum juga menjadi alasan semakin maraknya perdagangan dan pemeliharaan kukang. Menurut data Unit Kejahatan Satwaliar (Wildlife Crimes Unit/WCU) bahwa perdagangan kukang di Indonesia menduduki peringkat ke dua setelah monyet ekor panjang (Long-tailed macaque). Kukang yang diperdagangka n biasanya memiliki ciri khas, yaitu dipotong bahkan sampai dicabut giginya oleh pedagang. Pemotongan/pencabutan gigi ini, yang menyulitkan kukang untuk makan, dilakukan sebelum dijual.Akibat yang dapat ditimbulkan cukup fatal, seperti terjadinya infeksi atau bahkan sampai menyebabkan kematian tragis satwa ini. Di sisi lain, karena gigi yang tidak sempurna, kukang yang dapat diselamatkan dari perdagangan dan direhabilitasi memiliki kemampuan bertahan hidup di alam yang sangat kecil. Upaya perlindungan kukang tidak akan cukup kuat hanya dengan menjaga dari kepunahan, jika perburuan dan perdagangan kukang tidak segera diatasi.
 
sumber:
http://nationalgeographic.co.id/berita/2015/09/tentang-kukanghttps://id.wikipedia.org/wiki/Kukanghttps://alamendah.org/2010/08/08/kukang-nycticebus-coucang-yang-malu-malu/
http://kukangku.org/petisi

                                             Buah lai khas kalimantan

                            

buah yang masih merupakan kerabat durian dengan aroma yang lebih lembut dan bau yang jauh lebih ramah dibandingkan dengan saudaranya, durian. Namanya buah Lai atau Lay. Buah ini merupakan buah kerabat durian yang banyak ditemui di Kalimantan

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/delianasetia/lai-durian-dengan-aroma-lebih-ramah_54f83550a33311d4178b51fc
buah yang masih merupakan kerabat durian dengan aroma yang lebih lembut dan bau yang jauh lebih ramah dibandingkan dengan saudaranya, durian. Namanya buah Lai atau Lay. Buah ini merupakan buah kerabat durian yang banyak ditemui di Kalimantan

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/delianasetia/lai-durian-dengan-aroma-lebih-ramah_54f83550a33311d4178b51fc
buah yang masih merupakan kerabat durian dengan aroma yang lebih lembut dan bau yang jauh lebih ramah dibandingkan dengan saudaranya, durian. Namanya buah Lai atau Lay. Buah ini merupakan buah kerabat durian yang banyak ditemui di Kalimantan

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/delianasetia/lai-durian-dengan-aroma-lebih-ramah_54f83550a33311d4178b51fc
buah yang masih merupakan kerabat durian dengan aroma yang lebih lembut dan bau yang jauh lebih ramah dibandingkan dengan saudaranya, durian. Namanya buah Lai atau Lay. Buah ini merupakan buah kerabat durian yang banyak ditemui di Kalimantan

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/delianasetia/lai-durian-dengan-aroma-lebih-ramah_54f83550a33311d4178b51fc
Klasifikasi kingdom: Plantae 
super divisi: Spermatophyta 
divisi: Magnoliophyta
kelas: Magnoliopsida 
sub kelas: Dilleniidae 
ordo: Malvales 
famili: Bombacaceae 
genus: Durio 
spesies: Durio kutjensis
 
Buah yang masih merupakan kerabat durian dengan aroma yang lebih lembut dan bau yang jauh lebih ramah dibandingkan dengan saudaranya, durian. Namanya buah Lai atau Lay. Buah ini merupakan buah kerabat durian yang banyak ditemui di Kalimantan, buah yang memiliki nama ilmiah  Durio kutejensis memiliki ciri berwarna kuning dan mempunyai duri khas dari buah durian, namun yang membedakan adalah aroma dan rasanya. Tak seperti durian yang mempunyai bau menyengat, buah Lai tidak berbau menyengat begitu juga ketika dimakan buah Lai tidak terasa panas di lambung. Kelebihan Lai pada selain pada aroma yang lembut, warna daging atraktif, daya simpan yang lebih lama, dan musim panen yang berbeda dengan durian, juga memberikan peluang pasar lebih luas pada Lai baik untuk pasar domestik maupun ekspor.

beberapa varietas Lai sudah beredar di masyarakat, baik yang sudah dilepas sebagai varietas unggul maupun yang belum dilepas, diantaranya adalah Lai Mas, Lai Kayan, Lai Rencong, Lai Nangka dan Lai Batuah. Lai Mas merupakan salah satu varietas yang pertama kali diperkenalkan ke umum. Walaupun belum dilepas sebagai varietas unggul, ia sudah cukup dikenal. Di Taman Buah Mekarsari, varietas ini telah ditanam cukup banyak dan sudah berproduksi. Pada musim buah ia menjadi salah satu daya tarik dalam pesta kebun bertema durian (komunikasi pribadi).

Lai Kayan, Lai Rencong, Lai Nangka dan Lai Batuah, merupakan varietas Lai yang terbilang baru, dan telah dilepas sebagai varietas unggul dari Kalimantan Timur.  Varietas-varietas ini sekarang sedang mulai dikembangkan. Beberapa kebun telah menghasilkan dan ternyata cukup diminati konsumen. Informasi terakhir, varietas ini juga diminati oleh eksportir dari Singapura dan Malaysia (Diperta Kaltim, komunikasi pribadi). Dan masih banyak lagi Lai yang tersebar di kawasan lain di Kalimantan yang belum dieksplorasi atau dipromosikan ke umum.
Musim panen Lai biasanya bulan Januari sampai Maret, dengan masa puncak bulan Februari. Ketika musim buah Lai di Samarinda, Balikpapan, Tarakan dan Nunukan pada akhir-akhir tahun kita akan melihat buah Lai banyak dijajakan disepanjang jalan utama dengan harga 15 ribu hingga 25 ribu tergantung jenis dan ukuran. Lai mempunyai porsi daging buah 20-40%. Teksturnya agak kering atau lembut dan halus tergantung pada varietasnya. Buahnya yang baru gugur biasanya belum masak penuh dan mutunya meningkat beberapa hari setelah gugur.
referensi:
http://frenatus.blogspot.co.id/2012/09/klasifikasikingdom-plantae-super-divisi.html
http://www.kompasiana.com/delianasetia/lai-durian-dengan-aroma-lebih-ramah_54f83550a33311d4178b51fc
http://balitbu.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/berita-mainmenu-26/13-info-aktual/345-lai-
http://www.nasa-borneo.com/2016/01/lai-buah-mirip-durian-dari-kalimantan.html


 
                                                                BURUNG ENGGANG
                   Tampangnya gagah bijaksana. Orang Dayak menghormatinya sebagai Panglima Burung. Itulah burung Enggang (Hornbill) dari Pulau Kalimantan. Burung enggang atau rangkong dalam bahasa Inggris disebut hornbill karena paruhnya memiliki tanduk atau cula. Di suku dayak, enggang termasuk burung yang dikeramatkan.Burung enggang juga dianggap sebagai lambang perdamaian dan persatuan. Oleh karena itu, burung enggang dapat kita temukan di hampir setiap ruang masyarakat dayak, seperti pada patung, ukiran, lukisan, pakaian, rumah, balai desa, monumen, pintu-pintu gerbang, juga di makam-makam.

 

Keunikan Cara Hidup 
              Burung Enggang betina suka bertelur di lubang batang pohon. Sarang burung Enggang ditutupi lumpur dan hanya menyisakan sedikit lubang. Selama mengerami telurnya, burung Enggang jantan memberi makan burung Enggang betina melalui lubang kecil di sarangnya. Burung Enggang merupakan lambang kesetiaan dan kerukunan. Orang Dayak sangat menghormati burung Enggang. Burung Enggang dianggap sebagai Panglima Burung atau Panglima Perang dari Langit. Oleh karena itu, burung Enggang dijadikan lambang propinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.
Sayapnya yang tebal menggambarkan pemimpin yang melindungi rakyatnya. Suaranya yang keras menyimbolkan perintah pemimpin yang selalu didengar oleh rakyat. Ekornya yang panjang menjadi tanda kemakmuran rakyatnya.


Paruh burung enggang digunakan sebagai lambang pemimpin perang orang dayak. Namun, karena orang Dayak mengeramatkan burung ini, orang dayak hanya mengambil paruh enggang yang sudah mati.
Bulu ekornya yang memiliki warna hitam dan putih digunakan dalam pakaian adat Kalimantan dan digunakan sebagai kostum dalam tari-tarian saat upacara adat. Para penari adat menggunakan bulu enggang sebagai hiasan kepala dan jari-jari tangan.
Burung yang panjangnya bisa mencapai 150 cm ini juga menjadi lambang kesetiaan dan kerukunan. Hal ini berangkat dari cara hidupnya yang unik. Burung enggang hidup berpasang-pasangan dan tidak dapat hidup tanpa pasangannya. Burung enggang betina suka bertelur di lubang pohon. Sarangnya ditutupi lumpur dan hanya menyisakan sedikit lubang. Saat mengerami telurnya, enggang betina tinggal di dalam sarang. Selama waktu pengeraman yang berlangsung lama ini (sekitar 4 bulan), enggang jantan akan memberi makan enggang betina melalui lubang kecil tersebut.

Keanekaragaman burung Rangkong atau Enggang di Indonesia sangat tinggi di bandingkan negara lain. Indonesia merupakan negara yang paling banyak memiliki jenis burung Rangkong. Dari 57 spesies burung Rangkong yang terdapat di seluruh dunia, 14 diantaranya terdapat di Indonesia. Keanekaragaman burung Rangkong itu makin terasa lantaran tiga jenis diantaranya merupakan endemik Indonesia yang tidak terdapat di negara lain.
Burung Rangkong dikenal juga sebagai Julang, Enggang, dan Kangkareng atau bahasa Inggris disebut Horbbill merupakan nama burung yang tergabung dalam suku Bucerotidae. Burung Rangkong atau Enggang mempunyai ciri khas pada paruhnya yang mempunyai bentuk menyerupai tanduk sapi. Nama ilmiahnya, “Bucerotidae” mempunyai arti “tanduk sapi” dalam bahasa Yunani.

Ketiga Rangkong atau Enggang endemik Indonesia adalah:
  • Rangkong Sulawesi atau Julang Sulawesi Ekor Hitam (Rhyticeros Cassidix); Rangkong ini merupakan satwa endemik pulau Sulawesi dan sekaligus menjadi fauna identitas Sulawesi Selatan). Satwa yang nama ilmiahnya bersinonim dengan Aceros cassidix ini oleh masyarakat setempat disebut juga sebagai Rangkong Buton, Burung Taonn, Burung Alo.
  • Julang Sulawesi Ekor Putih atau Kangkareng Sulawesi (Penelopides exarhatus); Julang Sulawesi Ekor Putih merupakan endemik pulau Sulawesi
  • Julang Sumba (Rhyticeros averitti). Julang Sumba merupakan satwa endemik Sumba, Nusa Tenggara Barat. Selain disebut Julang Sumba burung ini juga disebut Goanggali, Nggokgokka, atau Rangkong Sumba.  
Namun sekarang ini burung enggang merupakan burung langka yang sudah sangat sulit di temui di hutan borneo, ini dikarenakan pengerusakan hutan borneo yang terus-menerus terjadi, seperti penebangan hutan baik illegal logging maupun untuk dijadikan lahan perkebunan kelapa sawit. 

Nasib burung enggang ini sekarang sama seperti nasib suku Dayak di borneo yang semakin terpinggirkan di tanahnya sendiri. Sekarang burung ini hanya sebagai simbol dan hanya dapat dilihat dalam suatu rekaman gambar yang menunjukkan masa kejayaannya dimasa lampau. 

Burung ini hanya dapat dilihat sebagai simbol yang dilukiskan berupa motif seperti pada gambar ini. Kasihan sekali nasib mereka. Sebagian yang tersisa darinya hanya sebuah gambar dan segelintir bagian paruh dan bulu yang tetap di simpan rapi oleh masyarakat suku dayak. ( Sumber : Wikipedia )









 SUMBER:
https://alamendah.org/2010/04/18/keanekaragaman-burung-rangkong-enggang-indonesia/